E-Commerce

Brand Owners Berbondong-Bondong Tutup dari Shopee dan Tokopedia, Kenapa?

Fenomena brand owner tutup toko dari Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop semakin masif di 2026. Dari True to Skin hingga Raecca, banyak brand memilih bangun website sendiri. Ini detail peraturan, biaya baru, dan solusinya.

7 Mei 2026
5 menit baca
Tim Sentrasoft
#E-Commerce#Shopee#Tokopedia#TikTok Shop#Brand Owner Tutup Toko#Biaya Marketplace#UMKM#Kebijakan Marketplace#Marketplace Indonesia#True to Skin#Raecca
Brand Owners Berbondong-Bondong Tutup dari Shopee dan Tokopedia, Kenapa?

Brand Owners Berbondong-Bondong Tutup dari Shopee dan Tokopedia, Kenapa? Peraturan dan Biaya Baru di E-Commerce Secara Detail Ada di Sini

Jika Anda aktif di komunitas seller online atau sekadar scrolling Threads belakangan ini, rasanya hampir mustahil nggak nemuin satu thread yang isinya keluhan soal biaya marketplace. Dari gerakan "Tinggalkan Shopee dan Tokopedia" yang viral di Threads, sampai video-video TikTok yang judulnya nyaris sama — "seller pamit, marketplace naik biaya lagi" — fenomena ini bukan sekadar gimik. Ini nyata, dan menyebar cepat.

Yang bikin kali ini beda: bukan cuma seller kecil yang mengeluh. Beberapa brand kosmetik lokal yang namanya sudah cukup besar — seperti True to Skin dan Raecca — justru memutuskan untuk angkat kaki dari marketplace dan membangun website toko online sendiri. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ada data dan perhitungan di baliknya.

Ilustrasi seseorang yang sedang berbelanja online melalui smartphone — fenomena brand owner tutup dari marketplace Shopee dan Tokopedia semakin masif di 2026

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Per awal Mei 2026, tiga marketplace terbesar di Indonesia — Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop — kompak "menyesuaikan" biaya layanan mereka. Dan yang dimaksud "menyesuaikan" di sini adalah: naik. Semua naik, hampir bersamaan.

Reaksi seller pun langsung muncul. Di Threads, muncul gerakan dengan ratusan komentar yang isinya seragam: seller memilih pamit. Di X (Twitter), beberapa seller secara terang-terangan menyampaikan keputusan mereka untuk menonaktifkan toko di Shopee dan Tokopedia.

Menurut laporan Uzone.id, bahkan brand kosmetik lokal True to Skin menjadi salah satu merek besar yang memutuskan undur diri dari e-commerce. Alasannya cukup jelas:

"Belakangan ini, kami juga mendapat kabar kalau TikTok akan menaikkan fees lagi — dan kali ini cukup signifikan dan sangat memberatkan seller, terutama di biaya layanan dan logistik," — True to Skin

Brand kosmetik lainnya, Raecca, juga mengambil langkah serupa — membangun website resmi sendiri agar bisa memberikan harga terbaik tanpa terkena potongan marketplace yang makin berat.

Tumpukan kardus paket pengiriman di gudang — gambaran beban biaya logistik yang semakin memberatkan bagi seller marketplace di Indonesia

Data Pangsa Pasar: Siapa yang Sebenarnya Mendominasi?

Sebelum membahas detail biaya, ada baiknya kita lihat dulu posisi masing-masing marketplace. Data dari Momentum Works yang dikutip Databoks Katadata menunjukkan ketimpangan yang cukup jauh:

Infografis pangsa pasar GMV e-commerce Indonesia 2025 — Shopee mendominasi 53%, Tokopedia di posisi terbawah
  • Shopee: US$83,2 miliar (~53% pangsa pasar) — tetap raja e-commerce Indonesia
  • TikTok Shop: US$26,8 miliar — tumbuh pesat, naik ke posisi kedua
  • Lazada: US$14,8 miliar — stabil di posisi ketiga
  • Blibli: US$9,3 miliar
  • Tokopedia: US$9 miliar — posisi terbawah

Sementara itu, survei APJII 2025 menunjukkan Shopee diakses oleh 53,22% pengguna e-commerce di Indonesia. Artinya, dari sisi mindshare konsumen, Tokopedia sudah bukan pilihan pertama lagi. Dengan kondisi ini, wajar kalau banyak seller merasa bahwa cost-to-benefit ratio jualan di Tokopedia dan Shopee makin nggak masuk akal.

Detail Peraturan & Biaya Baru di Marketplace 2026

Nah, ini bagian yang paling ditunggu. Mari kita bedah satu per satu, platform per platform.

Timeline kenaikan biaya marketplace Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop 2025-2026 termasuk respons pemerintah

Shopee: Biaya Gratis Ongkir XTRA Naik (Mulai 2 Mei 2026)

Shopee menyesuaikan biaya layanan program Gratis Ongkir XTRA yang sudah menjadi andalan banyak seller. Perubahan ini bervariasi tergantung kategori produk:

  • Fashion & Logam Mulia (ukuran biasa): Naik dari 1,5% menjadi 2% (maksimal Rp40.000/produk)
  • Fashion & Logam Mulia (ukuran khusus): Naik menjadi 3,5% (maksimal Rp60.000/produk)
  • Kategori Tambahan Fashion (ukuran biasa): Naik dari 5,5% menjadi 7,5%
  • Kategori Tambahan Fashion (ukuran khusus): Naik menjadi 9%

Perlu dicatat: program ini bersifat opsional. Tapi realitanya? Kalau nggak ikut program ini, produk hampir dipastikan nggak akan muncul di halaman pertama pencarian. Jadi buat banyak seller, ini bukan opsi — ini keharusan.

Sebagai kompensasi, Shopee menghadirkan beberapa benefit baru: Program Sukses UMKM yang diperluas jadi 1.000 pesanan pertama (dari sebelumnya 500), ongkos kirim lebih rendah sampai 80% untuk produk ukuran khusus, dan promosi biaya layanan untuk pengguna iklan.

Tokopedia / TikTok Shop: Biaya Layanan Logistik Baru (Mulai 1 Mei 2026)

Mulai 1 Mei 2026 pukul 10.00, Tokopedia mengenakan Biaya Layanan Logistik ke semua pesanan baru. Besarannya berkisar dari Rp260 hingga Rp5.055 per pesanan, dihitung berdasarkan persentase dari ongkos kirim yang dibayar pembeli.

Poin kritis: biaya ini ditanggung sepenuhnya oleh penjual dan tidak akan ditampilkan kepada pembeli saat checkout. Artinya, dari sisi pembeli, ongkir tetap sama — tapi dari sisi seller, ada potongan tambahan yang lumayan.

Tokopedia: Cap Komisi Melonjak 15x (Mulai 18 Mei 2026)

Ini yang paling bikin jantungan. Sebelumnya, batas maksimum komisi per item (cap) adalah Rp40.000. Mulai 18 Mei 2026, cap ini melonjak menjadi Rp650.000 per item.

Contoh nyata: Jual laptop Rp20 juta dengan komisi 4% = Rp800.000. Dulu kena cap di Rp40.000. Sekarang? Bisa sampai Rp650.000. Selisihnya Rp610.000 per unit — dari satu produk saja. Kalau jual 10 unit sebulan, itu potensi kehilangan Rp6 juta hanya dari kenaikan cap komisi.

Kalkulator keuangan dan laptop — seller harus menghitung ulang margin keuntungan di tengah kenaikan biaya marketplace yang masif

Shopee: Perubahan Admin Fee (Per 1 Januari 2026)

Sebenarnya, kenaikan biaya di Shopee sudah dimulai sejak awal tahun. Per 1 Januari 2026, Shopee mengubah biaya admin yang berlaku per kategori produk. Konten kreator @vivileonita_ (Cici Vileo) yang aktif berbagi tips bisnis online, bahkan sudah mengingatkan soal perubahan ini sejak Desember 2025 lewat konten yang ditonton puluhan ribu kali.

Simulasi Biaya: Berapa Ruginya Seller?

Biar nggak cuma teori, mari kita hitung dengan angka nyata. Bayangkan Anda jual produk fashion seharga Rp150.000:

Tabel simulasi biaya per pesanan marketplace Shopee vs Tokopedia vs Website Sendiri untuk produk fashion Rp150.000

Dari simulasi di atas, jelas bahwa website sendiri memberikan margin tertinggi. Meskipun perlu investasi awal untuk domain, hosting, dan pembuatan website, dalam jangka panjang selisih margin-nya sangat signifikan — bisa 2x lipat dibanding jualan di marketplace.

Pemilik bisnis yang sedang berpikir serius memegang kepala — ilustrasi tekanan yang dirasakan brand owner di tengah kenaikan biaya

Suara dari Lapangan: Apa Kata Brand & Pemerintah?

Bukan cuma data yang bicara. Di lapangan, sentimennya juga cukup jelas:

  • True to Skin — brand kosmetik lokal yang memilih undur diri dari marketplace dan membangun website sendiri karena kenaikan fee yang "cukup signifikan dan memberatkan."
  • Raecca — brand kosmetik lain yang meluncurkan official website dengan janji "more deals, free ongkir, dan harga terbaik" yang nggak bisa diberikan di marketplace.
  • Prof. Dr. Darmadi Durianto, akademisi di bidang UMKM dan Kewirausahaan, menyatakan bahwa yang tersisa hanya dua pilihan pahit: "naikkan harga atau tutup toko." Pernyataan ini viral dengan ratusan respons di Instagram.
  • Komunitas Seller Shopee Indonesia di Facebook dipenuhi keluhan setelah update biaya per 2 Mei 2026, dengan thread yang mendapat 130+ komentar dalam hitungan jam.

Dari sisi pemerintah, Menteri UMKM dikabarkan menerima banyak keluhan langsung dari pelaku usaha soal biaya marketplace yang semakin memberatkan. Pemerintah bahkan disebut sedang menyiapkan aturan baru untuk mengatur biaya admin e-commerce yang dijadwalkan meluncur pada Mei 2026.

Kementerian Perdagangan juga dilaporkan mengkaji revisi Permendag 31/2023 yang mengatur tentang biaya admin e-commerce. Tujuannya jelas: memastikan marketplace tidak semena-mena menaikkan biaya sampai menindas pelaku UMKM. Namun hingga Mei 2026, regulasi konkret yang langsung melindungi margin seller dari kenaikan biaya platform belum juga terbit.

Laptop dengan tampilan toko online — brand owner mulai membangun website sendiri sebagai alternatif marketplace

Kenapa Brand Owner Memilih Keluar dari Marketplace?

Infografis 6 alasan utama brand owner dan seller memilih menutup toko dari marketplace Shopee dan Tokopedia

1. Margin Profit Tergerus Drastis

Ini alasan nomor satu. Dari Rp150.000 harga jual, setelah dipotong komisi, biaya layanan, biaya logistik, biaya iklan, dan subsidi ongkir — total biaya bisa mencapai Rp30.000-50.000 per pesanan. Belum dipotong HPP (Harga Pokok Penjualan) yang bisa Rp70.000-90.000. Margin bersih? Bisa cuma Rp10.000-30.000 — atau bahkan minus kalau ada retur.

2. Data Pelanggan Bukan Milik Brand

Saat jualan di marketplace, data pembeli tetap milik platform. Email, nomor HP, preferensi belanja — semua dipegang Shopee/Tokopedia. Brand nggak bisa ambil data itu untuk retargeting, newsletter, atau program loyalty. Setiap pelanggan baru — secara efektif — milik marketplace, bukan milik brand.

3. Perang Harga yang Tak Sehat

Transparansi harga di marketplace itu pisau bermata dua. Konsumen senang bisa bandingkan harga. Tapi buat seller, ini berarti perang harga tanpa akhir. Seller dengan modal besar bisa nge-drop harga sampai di bawah HPP, mengandalkan volume. Seller kecil? Tinggal tertatih-tatih.

4. Biaya Iklan yang Terus Meroket

Supaya produk muncul di halaman pertama, seller harus bayar iklan. TopAds (Shopee) dan iklan di TikTok Shop/Tokopedia kini semakin mahal karena kompetisi makin ketat. Banyak seller mengeluh bahwa ROI iklan turun drastis — bayar mahal tapi konversi nggak sebanding.

5. Website Sendiri Lebih Menarik

Dengan website sendiri, brand punya kontrol penuh atas data pelanggan, branding, dan — yang paling penting — nol komisi. Ya, butuh investasi awal dan waktu untuk bangun trafik lewat SEO. Tapi dalam jangka panjang, ini jauh lebih sustainable. Katadata bahkan menyoroti tren ini: semakin banyak brand yang mulai membangun situs web sendiri karena biaya admin marketplace yang makin mencekik.

6. Integrasi & Perubahan Platform

Pasca-akuisisi Tokopedia oleh ByteDance (TikTok), integrasi antara Tokopedia dan TikTok Shop terus berjalan. Seller diminta bermigrasi ke sistem baru yang berbeda. Bagi yang sudah nyaman dengan sistem lama, perubahan ini menambah beban adaptasi di atas semua masalah biaya yang sudah ada.

Jadi, Apa Solusinya?

Nggak semua kabar buruk. Di tengah tekanan ini, justru muncul kesadaran baru: terlalu bergantung pada satu marketplace itu berbahaya.

Tiga solusi strategi alternatif untuk brand owner setelah menutup toko dari marketplace — website sendiri, social commerce, dan multi-channel

1. Bangun Website Toko Online Sendiri

Ini langkah yang paling banyak direkomendasikan. Dengan website sendiri, Anda punya kontrol penuh atas data pelanggan, branding, dan nol komisi. DailySEO ID menyoroti peluang besar bagi praktisi SEO untuk membantu seller yang ingin migrasi ke website sendiri — sebuah tren yang diprediksi terus berkembang sepanjang 2026.

Untuk panduan membuat toko online sendiri, Anda bisa membaca artikel kami tentang cara membuat website profesional dan perbandingan platform e-commerce terbaik.

2. Manfaatkan Social Commerce

Instagram Shopping, TikTok langsung, dan WhatsApp Business — ketiganya jadi channel penjualan yang makin powerful. Keunggulannya: interaksi langsung dengan pelanggan, bangun komunitas, dan lakukan live selling tanpa harus bayar komisi sebesar marketplace. Biaya iklan juga relatif lebih fleksibel.

3. Strategi Multi-Channel

Kalau harus pilih satu strategi yang paling aman, ini dia. Jualan di website sendiri SEKALIGUS di satu atau dua marketplace SEKALIGUS di social commerce. Folio POS menekankan bahwa kombinasi offline + online + marketplace + social commerce adalah formula yang paling resilient menghadapi gejolak industri.

4. Manfaatkan Program Diskon Komisi

Jika masih ingin bertahan di marketplace, manfaatkan program diskon yang tersedia. Kombinasi GMV Max dan Growth Xtra di Tokopedia/TikTok Shop bisa memberikan diskon hingga 8,18%. Untuk Shopee, manfaatkan Program Sukses UMKM yang baru diperluas jadi 1.000 pesanan pertama bebas biaya layanan.

Tim yang sedang berdiskusi strategi bisnis — pentingnya perencanaan matang sebelum mengambil keputusan keluar dari marketplace

Penutup: Adaptasi, Bukan Kapitulasi

Fenomena brand owner tutup toko dari Shopee dan Tokopedia itu nyata, dan datanya mendukung. Dari kenaikan biaya layanan Gratis Ongkir XTRA di Shopee, biaya logistik baru di Tokopedia/TikTok Shop, cap komisi yang melonjak 15x — semua ini menciptakan lingkungan yang semakin tidak bersahabat bagi pelaku usaha.

Tapi menutup toko bukan berarti menyerah. Bagi banyak brand, justru ini menjadi wake-up call untuk mulai membangun fondasi bisnis digital yang lebih kuat dan tidak tergantung pada satu platform saja.

Grafik pertumbuhan bisnis yang positif — adaptasi digital menjadi kunci bertahan di tengah perubahan kebijakan marketplace

Kunci utamanya ada dua: diversifikasi channel dan data ownership. Brand yang punya website sendiri, aktif di social commerce, dan tetap menjaga kehadiran di marketplace — mereka yang paling bisa bertahan dan berkembang di tengah perubahan ini.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah saya harus tutup toko?" tapi "apakah saya sudah punya Plan B kalau besok marketplace naik biaya lagi?" Kalau jawabannya belum, mungkin saatnya mulai bertindak.

Sumber data: Uzone.id — Biaya Shopee-Tokped Naik: Seller Pamit hingga Bikin Situs Sendiri, Databoks Katadata — Pangsa Pasar E-Commerce 2025, Kementerian UMKM — Pemerintah Siapkan Aturan Biaya Admin E-Commerce, Katadata — Brand Mulai Bikin Situs Web Sendiri, Shopee Seller Center, Tokopedia Seller Academy, MetroTV News — Biaya Admin Shopee 2026

Bagikan Artikel Ini

Bantu orang lain menemukan artikel ini